Kabaretegal – Menjelang puncak Festival Film Bandung ke-38 pada Oktober 2025, Forum Film Bandung (FFB) meluncurkan buku antologi puisi film bertajuk ‘Kebangkitan’.
Acara peluncuran berlangsung di Aula PDS HB Jassin, Komplek Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini, Jakarta Pusat, Selasa, 30 September 2025, mulai pukul 14.00 WIB.
Peluncuran buku dimeriahkan oleh pembacaan puisi sejumlah sastrawan, seniman, dan sineas, antara lain Jose Rizal Manua, Fikar W. Eda, Olin Monteiro, Kurnia Effendi, Putu Fajar Arcana, Bode Riswandi, dan Emi Suy. Beberapa selebritas yang turut menulis dalam buku ini juga akan tampil membacakan puisi mereka. Grup musik puisi “Tersajakkanlah” ikut memeriahkan acara.
Selain itu, digelar diskusi seputar buku tersebut dengan narasumber Eddy D. Iskandar dan Hasan Aspahani, dipandu moderator Devie Matahari.

Jejak Puisi dalam Perfilman Indonesia
Buku Kebangkitan dikuratori dan dieditori oleh Eddy D. Iskandar, Ratna Ayu Budhiarti, dan Rosyid E. Abby. Ini merupakan antologi puisi kedua yang diterbitkan FFB. Sebelumnya, pada 2012—tepat usia FFB ke-25—diterbitkan antologi Puisi Film yang berisi 25 puisi karya 25 penyair, penulis, artis, dan sineas.
Di usianya yang ke-38 di tahun 2025 ini, FFB kembali menghadirkan antologi baru dengan judul Kebangkitan, diambil dari puisi Putu Wijaya. Judul ini dipilih karena dinilai mencerminkan situasi perfilman Indonesia saat ini: bangkit dengan segala kelebihan dan kekurangannya, serta telah menjadi “tuan rumah di negeri sendiri”.
Diterbitkan oleh Langgam Pustaka, antologi ini memuat karya 48 penulis dari berbagai latar: aktor, sutradara, produser, penulis skenario, budayawan, hingga penyair. Sejumlah nama yang dikenal luas di dunia perfilman, antara lain Ir. Chand Parwez Servia, Embi C. Noer, Yasmin Yessy Gusman, Acha Septriasa, Eriska Rein, Jerome Kurnia, Putri Ayudya, Tika Bravani, Derry Drajat, Ginanti Ronan, dan Widi Dwinanda.
Dari kalangan sastrawan dan penyair, hadir nama-nama Putu Wijaya, Eddy D. Iskandar, Noorca M. Massardi, M. Fadjroel Rachman, Hasan Aspahani, Gol A Gong, Acep Zamzam Noor, Jose Rizal Manua, Kurnia Effendi, Warih Wisatsana, Putu Fajar Arcana, Toto ST Radik, Naning Scheid, dan lainnya.
Melalui puisi, mereka mengekspresikan kecintaan pada film Indonesia, refleksi perjalanan sinema, hingga dorongan untuk memperkaya warna film dengan keragaman budaya daerah.
Dalam kata pengantarnya, Eddy D. Iskandar mengungkapkan bahwa puisi telah lama hadir dalam film Indonesia. Film Cintaku Jauh di Pulau karya Motinggo Boesye, misalnya, terinspirasi dari puisi Chairil Anwar. Sutradara Asrul Sani pernah membuat film Bulan di Atas Kuburan dari puisi Sitor Situmorang. Garin Nugroho menampilkan puisi Sapardi Djoko Damono “Aku Ingin” dalam film debutnya Cinta dalam Sepotong Roti. Judul film Garin lainnya seperti Bulan Tertusuk Ilalang, Puisi yang Tak Terkuburkan, hingga Puisi Cinta yang Membunuh juga lahir dari inspirasi puisi.
Bahkan, nama Piala Citra berasal dari puisi karya Usmar Ismail yang kemudian digubah Cornel Simanjuntak menjadi lagu tema Festival Film Indonesia (FFI).
Karena itu, menurut Ketua Umum Forum Film Bandung ini, kehadiran buku Kebangkitan tepat sebagai refleksi hubungan erat antara dunia puisi dan film, sekaligus sebagai persembahan FFB menjelang malam puncak Festival Film Bandung ke-38.***


