Limang Nyawa Larut Dalam Puisi Prokem Tegalan

Ada keramaian Ahad Siang di Prepil Kaligung Jalan Projosumarto 2 Desa Pesayangan Kec. Talang Kab. Tegal (18/12/2021). Sejumlah praktisi hadir siang sehabis hujan itu, mereka mengapresiasi gelaran Napak Tilas Pembacaan Puisi Prokem Tegalan yang digelar Komunitas Puisi Prokem Tegal.

“Acara ini saya gelar guna memperkenalkan bahasa Prokem Tegalan kepada khalayak. kami mengajak teman Penyair Limang Nyawa untuk membaca”, tutur Ipuk NM Nur penggelar acara sekaligus pelopor gerakan Prokem Tegalan.

Ipuk NM Nur penulis Bahasa Prokem Tegalan
Ipuk NM Nur penulis Bahasa Prokem Tegalan dan penggelar acara

Mengawali baca Penyair Julis Nur Hussein menggasak dua judul masing-masing “Ngegigida Pido” (Ngelilira Siro) dan “Gitra Nyata” (Limang Nyawa), kemudian membaca mengalir gilir sederas arus air Kaligung yang sore itu bersuka cita dengan gelaran acara yang langka ini. Moh. Miroj Adhika cukup tampil memukau dengan gaya khasnya yang ditampilkan dengan doa puisi.

 

Suasana meluap saat Dyon Dyonk ambil giliran giliran, dengan gaya teatrikal ala Sutardji pegiat teater yang pernah bekerja di Bank ternama itu mula-mula menggeram bak singa sambil membuka baju lalu dengan ritmis mulai menyalak dengan letupan-letupan dialektik prokem Tegalan…

“Ging Gung…. ragak yekri ping sak riwubu… yoda jera nud late giku… yaba lidi-lidi ngguyu… parudunga ndingew trewu…” lalu dia menyalak lagi kali ini dengan hentakan kaki sambil tatapnya tajam . Puisi Prokem Tegalan berjudul Ging Gung yang dia baca jika diterjemahkan artinya Ling Lung –- dalan endi sing pan… ora beda kur gawe linu… aja giri-giri ngguyu… sadurunge kringet metu–  Dyon pun sukses menelan dua buah judul Puisi Prokem Tegalan hingga dia benar-benar puas dan puas dengan penampilannya.

 

Mas’udi Jeparan penyair gaek yang ahli pengobatan herbal dan terkenal dengan pijatan refleksinya yang ampuh itu dengan tawadu menyisir bait demi bait puisi “Tong Jadang” atau Tukang Mbarang yang menceritakan pengalaman Ipuk NM Nur saat muda dulu mengais berkah kala jalan di ruas-ruas jalan di kota tegal. Meski matahari menunjukkan tajam dan ganas, namun tak menyurutkan usaha dalam jihad keluarga dengan lantunan syair lagu-lagu Tegalan ciptaannya.

Apito Lahire ikonik pembaca puisi Tegal Raya

Apito Lahire menjadi pembaca pamungkas dalam acara yang bertajuk Napak Tilas Pembacaan Prokem Tegalan. Para pelintas jalan Projosumarto 2 mulai banyak menepi terbetot kepenasaranannya dengan peristiwa di tanggul Prepil Kaligung sore yang basah itu. Mereka cukup bermanfaat melihat aksi-aksi para seniman Limang Nyawa dengan pengalamannya di panggung kreasi. Lebih-lebih sekarang-benar melihat secara nyata kepiawaian seorang Dramawan, seorang Apito Lahire merupakan ikonik pembaca puisi Tegal Raya dengan gayanya yang flamboyan kadang menghentak, kadang datar namun bergelombang pun dialek bahasa Prokem Tegalan mampu ia ejawantah ketukan slendro nan menggiris sukma.

Di penghujung penampilannya di keempat keempat pembaca lain, Julis Nur Hussein, Dyon Dyonk, Moh. Miroj Adhika, dan Mas’udi Jeparan menyeruak maju membuat konfigurasi apik bersama Apito Lahire, bahkan hal ini membuat Wahyu Ranggati, Seniman Tari tak tahan menahan gatal dan ikut berimprovisasi dengan gerak tarinya yang luwes, kewes dan nyetel dengan puisi Prokem yang tengah diletupkan Apito Lahire . Belum reda sampai di sini ujug-ujug muncul sang penggelar acara Ipuk NM Nur sambil menenteng gitar ikut larut dalam kompilasi besar itu. Dan semua pembaca dan tarian diam, berdentinglah gitar di tangan Ipuk kemudian melesatlah dari mulutnya…

“Limang nyawa kudu dipadangi… Limang nyawa kudu diuripi… Nggo njaga ibu pertiwi…” suara khas Ipuk.

Pose bersama usai kompilasi indah

 

Dan sekali lagi ujug-ujug datang seseorang yang langsung memberi saweran dengan lembar-lembar uang kertas Seratus Ribuan. Dialah Pa Wasis pemilik Oemah Cafe yang beberapa waktu lalu menggelar acara Pembacaan Puisi Tegalan.

“Aku sangat suka dengan acara-acara yang berlatar kearifan lokal. Ini (baca puisi Prokem) perlu dirutinkan jangan hanya sekali terus menghilang. Silahkan mas Ipuk, Oemah Cafe sangat terbuka untuk kegiatan ini…” ucap beliau dengan sumringah.

(Mardja)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *