Bioskop Masih Unggul, Tapi Harus Adaptasi dengan Eksistensi OTT

KabareTegal, Jakarta- Webinar Zoom FFWI seri 1 bertajuk “Peluang Mengembangkan Ekosistem Perfilman Indonesia Di Era Pandemi” bersama Mrs. Judith J Dipodiputro- CEO Perum PFN, Ms. Lesley Simpson- Country Head We TV & IFlix Indonesia dan Mr. Manoj Punjabi – CEO MD Corp baru saja usai.

 

Diawali dengan sambutan dari Ahmad Mahendra – Dit.PMMB KemendikbudRistek RI yang diwakili Edy Suwardi selaku Kapokja Apresiasi dan Literasi Film.

Anda tentu saja sudah menjadi penikmat hiburan film, webseries atau konten lainnya dengan kemudahan bisa nonton kapan saja, skip sampai mengulang-ulang sesuka hati karena OTT (Over The Top)  punya fitur itu semua

 

“Tetap bioskop masih tetap unggul karena raih imej tapi kehadiran OTT adalah lahan baru dan menarik melahirkan banyak inovasi. Brand harus besar tidak hanya OTTnya tapi juga sudah dikenal luas, tantangannya masih besar yang suka gratisan sehingga subsidi masih dilakukan oleh MD. Saya tidak pro ke OTT tapi ini adalah alternatif baru dan the next TV, bioskop tetap prioritas,” papar Manoj yang mengaku kangen bioskop buka lagi.

 

Ia tambahkan bioskop tak tergantikan karena experience yang ditawarkannya. Ia memilah-milih produk. Jangan kill or be killed tapi live and let live.

Leslie dari pihak We TV segendang sepenarian dengan paparan Manoj akan momentum yang bersamaan di era pandemi.

 

“Impian WeTV sesuai visi misi ingin mengantar film Indonesia ke dunia tidak hanya penonton Indonesia. WeTV ingin industri perfilman nasional dibangkitkan dulu melalui oppurtunity OTT dari webseries ke film saat bioskop masih tutup. Jadi senang sekali bisa bekerjasama dengan PH-PH lainnya, ” paparnya lugas.

 

“PFN menjadi katalis pertumbuhan industri perfilman & industri konten Indonesia termasuk sentra pembiayaan industri film dengan banyak kerjasama seperti Telkom Group untuk start up. Saya garisbawahi film yang dibiayai PFN itu harus punya nilai sosial bagi Indonesia dan saat ini masih berproses,” ucap Judith semangat tadi siang, Jumat (20/8).

 

Dipandu oleh Shandy Gasela – Ketua Dewan Juri FFWI ke-11.

 

Mengawali Ketua Panitia FFWI, Wina Armada Sukardi mengingatkan peran penting wartawan dalam perkembangan industri film Indonesia sampai pandemi ini dengan webinar ini menjadi bahan pemberitaan jelang perhelatan FFWI.

 

Anda yang ingin mengetahui lebih lanjut bisa berkunjung ke

Official Site: www.festivalfilmwartawan.com

IG: @festivalfilmindonesia

Twitter: fesfilmwartawan

About AKHMAD SEKHU

Akhmad Sekhu, wartawan dan juga sastrawan, ini lahir 27 Mei 1971 di desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, Jawa Tengah. Tinggal di Jakarta, bekerja sebagai wartawan. Puisi-puisinya masuk sekitar 80 buku antologi komunal (1994-2025). Buku antologi puisi tunggalnya; Penyeberangan ke Masa Depan (Yayasan Sastra Gading, 1997), Cakrawala Menjelang (Yayasan Aksara Indonesia, 2000), Memo Kemanusiaan (Balai Pustaka, 2022). Novelnya: Jejak Gelisah (2005) diterbitkan Penerbit Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo, Gramedia Group), Chemistry (Bubble Books, 2018), Pocinta (Prabu21, 2021). Catatan tentang kesastrawanannya masuk dalam Bibliografi Sastra Indonesia (2000), Leksikon Susastra Indonesia (2001), Buku Pintar Sastra Indonesia (2001), Leksikon Sastra Jakarta (2003), Ensiklopedi Sastra Indonesia (2004), Gerbong Sastrawan Tegal (2010), Apa & Siapa Penyair Indonesia (2017), dan lain-lain. Karya-karyanya sudah banyak dijadikan bahan penelitian dan skripsi tingkat sarjana. Memenangkan Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999) dan Pemenang Favorit Sayembara Mengarang Puisi Teroka-Indonesiana "100 Tahun Chairil Anwar" (2022).

View all posts by AKHMAD SEKHU →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *