Dapur Relawan Indonesia Berperan di Erupsi Semeru

KabareTegal – Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur mengalami erupsi pada tanggal 4 Desember 2021. Sedikitnya 48 orang korban meninggal dunia berdasarkan data dari Posko Tanggap Darurat per 13 Desember 2021.

 

Selain itu, 18 orang menderita luka berat akibat erupsi Gunung Semeru. Rata-rata korban mengalami luka bakar akibat terkena guguran lahar. Sementara itu, 12 orang menderita luka ringan.

 

Di tengah Gunung Semeru masih mengalami serangkaian erupsi atau terjadi gempa letusan, penduduk yang terdampak dipastikan memerlukan pertolongan dan bantuan dari sejumlah pihak. Salah satu yang memiliki peran besar dalam musibah erupsi Gunung Semeru adalah keberadaan Dapur Relawan Indonesia (DRI).

 

Menurut ketua DRI Widinarto, Dapur Relawan Indonesia yang langsung terjun ke lokasi bencana, sebelumnya sudah menurunkan tim assessment untuk memantau kondisi para pengungsi maupun situasi yang terjadi di wilayah bencana.

“Baru setelah tim assessment, DRI terjun ke lokasi untuk menyediakan segala fasilitas dan keperluan para relawan yang ada di lokasi bencana. Kita sampai di Semeru hari ketiga setelah Semeru erupsi.  Sebelumnya juga kita sudah mengirim tim,” kata Widinarto ketika dihubungi via telepon saat berada di lokasi bencana, Rabu (15/12/2021).

 

Keberadaan DRI terutama saat ini di tengah bencana erupsi Merapi menurut pria yang biasa disapa Widi, yakni memberikan fasilitas kepada para relawan.

 

“Seperti akomodasi, tempat tinggal, makanan siap saji. Kita memberikan pelayanan terbaik untuk mereka,” beber Widi.

 

Widi menambahkan bahwa DRI selain menyediakan dapur untuk para relawan juga menyediakan relawan lain mulai dari kesehatan hingga lainnya

 

“Kita juga ada relawan kesehatan, trauma healing dan lain-lain,” ungkap Widi.

 

Memenuhi kebutuhan para pengungsi serta relawan di tengah bencana tentu bukan perkara mudah. DRI sendiri menurut Widi juga sempat mengalami kendala ketika mencari penduduk setempat yang bisa diajak bekerjasama memasak di dapur DRI.

 

“Untuk juru masak di Semeru dari chef kita sendiri dan penduduk setempat. Tapi di Semeru ini kita kesulitan mencari penduduk karena mengungsi,” jelas Widi kemudian.

 

Selain itu, kolaborasi potensi SAR DRI (Dapur Relawan Indonesia), IOF( Indonesia Offroader Indonesia) serta Relawan Independen dalam membantu proses penanganan tanggap bencana pasca erupsi Gunung Semeru sangatlah membantu operasi SAR.

 

“Proses memobilsasi kebutuhan logistik, makanan siap santap dan evakuasi masyarakat dan relawan ke daerah yang terisolir sangatlah dibutuhan terkait banyak lokasi yang sulit di jangkau. Oleh sebab itu DRI dan IOF akan selalu berkolaborasi demi sinergiritas sehingga tercapainya penanganan tanggap bencana secara maksimal,” papar Widi.

 

Ingin Membentuk Yayasan

 

Dapur Relawan Indonesia menurut Widi pada awalnya hanya sebatas wadah bagi para relawan yang ada di seluruh Indonesia.

 

Namun seiring perjalanan waktu serta banyaknya donatur yang ingin memberikan sumbangan, maka Widi bersama pengurus lain berencana akan memperluas cakupan DRI yang semula hanya sebatas wadah, ingin menjadi sebuah yayasan profesional.

 

“Legalitas akan menjadi yayasan setelah sebelumnya ini sebagai wadah para relawan. Karena banyak teman yang bingung ketika ingin berdonasi ke kita. Sebab itu supaya DRI lebih profesional akan kita arahkan menjadi yayasan,” terang Widi.

 

Sementara terkait darimana saja donasi itu DRI peroleh, Widi menegaskan bahwa yang pertama adalah dari niat yang tulus.

 

“Semata-mata apa yang kita kerjakan hanya untuk Allah SWT. Ini adalah ibadah. Kalau niatnya ibadah maka akan dipermudah. Donatur dari kita sendiri. Kita punya dana awal. Seperti saat kita mau ke lokasi bencana, kita harus punya dana awal,” ungkap Widi.

 

“Kita juga mendapat bantuan dari Om Andi. Karena beliau concern dengan hal seperti ini. Beliau selalu support kita,” sambungnya.

 

‘Sebagai Ketua DRI saya berharap DRI tetap eksis kedepannya. Jangan jumawa. Timbul dari hati. DRI milik bersama,” pungkas Widi.

 

About AKHMAD SEKHU

Akhmad Sekhu, wartawan dan juga sastrawan. Buku puisinya: Penyeberangan ke Masa Depan (1997), Cakrawala Menjelang (2000). Sedangkan, novelnya: Jejak Gelisah (2005), Chemistry (2018), Pocinta (2021)

View all posts by AKHMAD SEKHU →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *