Kisah Inspiratif Sutoro ‘Mamo’ Buat Warteg MamokA Bahari Terlihat Nyleneh & Mudah Diingat

Lagi, sebuah warteg berdiri jadi bagian warteg-warteg yang mewarnai wajah ibukota Jakarta, yakni Warteg MamokA Bahari. Sebuah nama yang terdengar unik sekali. Sutoro ‘Mamo’, pendirinya, mengaku memberi nama tersebut supaya kelihatan nyleneh dan mudah diingat. Berkat usaha dan kerja kerasnya yang gigih, Warteg MamokA Bahari yang lagi nge-hits dengan tampilan bersih, rapi dan terang-benderang ini sudah 81 cabang di jabodetabek.

 

Warteg MamokA Bahari punya keistimewaan yang membedakan dengan warteg lainnya. Tampilannya lebih cerah. Adapun, programnya di antaranya, ada teh manis gratis dan es teh manis gratis. Ada Jumat berkah makan di tempat atau bungkus hanya 10.000, – pada jam 11.00 – 14.00 WIB. Ada potongan harga khusus buat driver go-jek sejabodetabek juga.

“Semua bentuk usaha merintis ya nggak selalu berjalan lancar tentu banyak kendala di dalam maupun di luar. Begitu juga saat saya merintis usaha Warteg MamokA Bahari, dimana saya pertama kali mendirikan Warteg MamokA Bahari di Jalan Fatmawati Jakarta Selatan, “ kata Mamo, pemilik Warteg MamokA Bahari, menuturkan awal merintis usaha Warteg MamokA Bahari, kepada KabareTegal, Rabu (29/1/2020).

 

Lelaki kelahiran Tegal, 21 Maret 1979, itu lebih lanjut menerangkan, wartegnya diberi nama ‘MamokA Bahari’. “Saya memakai nama MamokA supaya kelihatan nyleneh saja dan mudah diingat, “ terang anak dari pasangan Abah Raidi dan Ibu Darwati.

 

Menurut Mamo, sapaan akrabnya, keistimewaan Warteg MamokA Bahari yang membedakan dengan warteg-warteg lainnya, yaitu di antaranya, tampilan MamokA lebih cerah, terang benderang, yang tentu membedakan dengan warteg lainnya. “Program di MamokA ada teh manis gratis dan es teh manis gratis. Ada Jumat berkah makan di tempat atau bungkus hanya 10.000,- sudah termasuk teh manis pada jam 11.00 – 14.00, “ ucapnya mantap.

 

“Ada potongan harga khusus bagi driver go-jek sejabotabek juga, “ imbuhnya

Mamo menyebut Ibu Darwati, ibunya, yang paling memotivasi dirinya untuk terjun di usaha warteg. “Kami memang keluarga warteg, “ ungkapnya bangga.

 

Menurut Mamo, tantangan dalam mengelola warteg dibanding usaha lainnya, yakni selama ini terkendala di SDM. “Tinggal kita harus bisa mensiasati saja, “ bebernya tetap optimis.

 

Saat ditanya apa harapan ke depan dalam mengelola warteg? Dengan tenang dan penuh keyakinan, Mamo memberikan jawaban, “Kita mengalir aja mas nggak punya target. Yang penting MamokA bisa memberi pelayanan terbaik untuk customer-nya.”

Sebagai orang Tegal, Mamo tahu benar karakter orang Tegal dibanding daerah lainnya. “Etos kerja wong Tegal itu pekerja keras, “ komentar Mamo memuji.

 

Mamo menyampaikan, bahwa Warteg Mamoko tampilannya bersih, rapi dan enak makanannya, seperti restoran lainnya. Ia pun punya keinginan, misalnya, Warteg Mamoko nantinya akan membuka cabang di bandara atau cabang di luar negeri. “Nggak menutup kemungkinan kami go internasional, “ tegas Mamo.

 

Warteg MamokA Bahari satu gruop dengan Warteg Kharisma dan Warteg Subsidi dalam wadah Kharisma Bahari Group. “Kami satu team tentunya saling suport satu sama lainnya, “ pungkas Mamo sumringah.

 

Warteg MamokA Bahari merupakan bisnis kuliner yang menjanjikan, hal ini telah terbukti dengan banyak pengusaha-pengusaha sukses hanya mengandalkan Warteg, managemen sederhana dan hasil menjanjikan, namun untuk memiliki modal warung (tempat usaha) diperlukan biaya yang tidak sedikit, bagi yang belum cukup modal untuk memiliki warung, Warteg MamokA Bahari adalah solusinya, Atau bagi yang ingin mengembangkan bisnis kuliner, Warteg MamokA Bahari uga menyediakan warung dengan cash.

 

Warteg MamokA Bahari Bahari menjadi bagian dari Kharisma Bahari Group dengan owner-nya Bapak Sayudi yang sukses membuka sekitar 400 cabang wartegnya di Jabodetabek. Usaha warteg ditawarkan dalam sistem kemitraan. Kharisma Bahari Group yang membuka kemitraan sejak 10 tahun lalu, telah berhasil memiliki sekitar 400 outlet dan brand baru MamokA Bahari pun berhasil mendongkrak puluhan outlet dalam waktu yang sangat singkat. Hebat!

About AKHMAD SEKHU

Akhmad Sekhu, wartawan dan juga sastrawan. Buku puisinya: Penyeberangan ke Masa Depan (1997), Cakrawala Menjelang (2000). Sedangkan, novelnya: Jejak Gelisah (2005), Chemistry (2018), Pocinta (2021)

View all posts by AKHMAD SEKHU →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *