Lukman Sardi: FFI Tetap Diadakan di Tengah Pandemi Agar Film Indonesia Tidak Mati

Merebaknya Corona Virus Disaese (Covid 19) berdampak segala sisi kehidupan, termasuk juga sangat berpengaruh dalam dunia perfilman. Meski demikian, Ketua Komite Festival Film Indonesia (FFI) 2020 Lukman Sardi menegaskan FFI 2020 tetap diadakan di tengah Pandemi agar film Indonesia tidak mati.

 

Berikut petikan wawancaranya, perihal Festival Film Indonesia (FFI) 2020 tetap digelar di tengah Pandemi Coovid-19, konsekuensi dan rencana teknis pelaksanaanya, dukungan sineas Indonesia, dukungan pemerintah, suka-duka Lukman Sardi selama memimpin Panitia FFI, pengalaman selama memimpin Panitia FFI, obsesi dan harapannya ke depan mengenai FFI, dan harapannya ke depan terhadap perkembangan Film Indonesia.

 

Festival Film Indonesia (FFI) 2020 tetap digelar di tengah Pandemi Coovid-19, bagaimana konsekuensi dan rencana teknis pelaksanaanya?

Iya betul FFI tetap diadakan di tengah Pandemi Covid-19. Seperti Pak Dirjend Kebudayaan sudah katakan bahwa FFI ini adalah sebuah semangat untuk menyatakan di tengah Pandemi film Indonesia tidak mati. Dan ini menjadi penting fungsinya. Kalau dalam sebuah peperangan, FFI bisa dianggap yang membawa bendera, dimana pada saat bendera itu jatuh otomatis dianggap sebuah kekalahan. FFI penting sekali tetap diadakan tentunya dengan penyesuaian-penyesuaian di situasi pandemi sekarang ini. begitu juga dengan festival-festival lain di luar negeri tetap ada, karena mereka juga merasakan bahwa festival itu penting. Mereka tetap menyemangati industri film agar tetap berkarya sehingga industrinya tidak mati. “Nah, ini yang menjadi penting kenapa FFI tetap diadakan. Dalam tahap pelaksanaannya kita tetap menyesuaikan dengan keadaan yang ada. Launchingnya kita lakukan secara virtual. Begitu juga dengan beberapa program lainnya dilakukan melalui online.

 

Sejauh ini bagaimana pelaksanaanya?

Teknis pelaksanaannya dari awal sudah menyiapkan alternatif- alternatif untuk masa pandemi dengan online tapi juga sekaligus offline kalau memang memungkinkan. Kita lakukan protokol kesehatan secara sangat ketat. Seperti Emmy Award di Amerika yang dilakukan secara virtual.

 

Apa yang membedakan gelaran  FFI 2020 dengan FFI tahun-tahun sebelumnya?

Yang membedakan situasi pandemi yang biasanya offline sekarang kita lakukan online. Secara prinsip sebenarnya tidak jauh berbeda, program inti FFI mulai dari launching kemudian penilaian atau penjurian. Berikutnya malam nominasi dan malam anugerah.

 

Bagaimana dukungan sineas Indonesia terhadap gelaran  FFI 2020?

Secara umum sineas Indonesia tentu mensupport adanya FFI karena bagaimanapun sineas Indonesia adalah orang-orang yang selalu berkarya. Kita juga melihat mereka orang-orang yang sangat harus diapresiasi, apalagi di masa pandemi ini bagaimana mereka punya challenge yang luar biasa berat untuk membuat industri film tetap berjalan. Dari beberapa hal yang sudah kita lakukan, sineas Indonesia sangat mensupport FFI. Ini sebuah sinergi yang luar biasa, kalau misalnya masalah hal-hal tertentu, mungkin ada beda pendapat tapi bukan berarti menjadi halangan. Perbedaan pendapat ini justru baik untuk diskusi-diskusi perbaikan FFI ke depannya yang lebih baik lagi.

 

Bagaimana dukungan pemerintah terhadap gelaran  FFI 2020?

Dukungan pemerintah sangat luar biasa, kita memang di FFI tentu didukung penuh oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dan juga ada Badan Perflman Indonesia. Disini bagaimana Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, terutama Dirjen Kebudayaan bersama Direktorat Film, Musik dan Media Baru. Mereka melihat FFI harus disupport karena bagaimana pun ini sebagai tanda penyemangat buat industri film Indonesia agar nantinya industri film Indonesia tidak jatuh seperti masa-masa dimana film Indonesia sempat mati dan ini sangat berbahaya kalau sampai industri film Indonesia benar-benar terpuruk walaupun memang keadaannya sekarang sedang sangat sulit. Tapi keberadaan festival sebagai apresiasi sangat penting. Pemerintah melihat hal ini, melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Dirjen Kebudayaan, dari awal sudah menyatakan FFI harus tetap ada. Saya pikir, ini sebuah support yang sangat luar biasa. Saya sebagai ketua komite juga merasakan semangatnya menjadi luar biasa. Di tengah pandemi, kita melewati masa-masa ini dengan challenging yang cukup lumayan, tapi di satu sisi kita punya semangat baru untuk tetap berdiri tegak.

 

Bagaimana suka-duka Anda selama memimpin Panitia FFI?

Suka dukanya tentu banyak, mengingat FFI ini moment sangat penting. Tentunya ini milik semua orang, bukan hanya milik orang film saja, bahkan semua lapisan masyarakat memiliki FFI itu sendiri dan film Indonesia. Sukanya banyak, saya melihat begitu banyak potensi- potensi baru, begitu banyak hal-hal baru. Sineas-sineas baru bermunculan. Semangat-semangat baru yang berkembang pesat. Ada sinergi yang luar biasa. Kerjasama yang luar biasa. antar sineas maupun dengan masyarakat. Dukanya ya tentu karena ini sesuatu yang sangat penting, tentu ini menjadi sorotan yang sangat luar biasa, yang kadang-kadang mungkin ada tekanan- tekanan. Tapi justru tekanan-tekanan itu buat saya menjadi sebuah motivasi, bagaimana supaya FFI bisa berjalan dengan baik dan menghasilkan sesuatu yang baik buat Indonesia.

 

Pengalaman apa yang paling berkesan Anda selama memimpin Panitia FFI?

Pengalaman yang paling berkesan buat saya adalah bagaimana sekelompok orang yang punya semangat dan visi yang sama mau berupaya bersama-sama untuk menjalankan atau menghadirkan bekerja untuk FFI. Ini buat saya pengalaman yang luar biasa. Karena bisa dibilang ini bukan pekerjaan paruh waktu tapi dibutuhkan komitmen, disiplin, tanggung jawab yang luar biasa dari masing-masing pihak. Ternyata mereka sangat semangat dan sangat punya komitmen yang baik sekali bisa bekerja sama dengan kita. Luar biasa di tahun ini bukan hanya ada orang film, tapi kita juga melibatkan banyak potensi-potensi muda.  Kita kerjasama dengan anak-anak muda yang punya ide-ide kreatif dalam urusan digital dan sosial media. Ini kolaborasi yang luar biasa.

 

Apa obsesi dan harapan Anda ke depan mengenai FFI?

Buat saya, FFI ini adalah sebuah fesival film tertua dan supremasi tertinggi buat film Indonesia. Obsesi saya tentunya ini akan semakin lebih baik lagi. Dari FFI kita membuktikan banyak sekali sineas-sineas baru, bukan hanya sineas-sineas senior. Terus tumbuhnya industri film Indonesia dengan kualitas terus berkembang. Beriring dengan itu, saya juga berharap FFI menjadi sebuah ajang yang memang saling mengapresiasi satu dengan yang lain. Menjadi brandmark buat perkembangan film Indonesia itu sendiri semakin kuat. Kita juga berharap FFI bisa menjadi independen, dalam arti kata tidak tergantung terus kepada pemerintah, tapi pemerintah tentunya dibutuhkan sebagai support buat kita sebagai sineas. Tapi di satu sisi bagaimana FFI bisa menjadi independen, bisa menjadi sangat inklusif dan bisa menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia dan akhirnya bisa juga menjadi barometer dari perkembangan film Indonesia juga beserta dengan bertumbuhnya perkembangan pemahaman tentang literasi-literasi yang baik melalui FFI itu sendiri.

 

Apa harapan Anda ke depan terhadap perkembangan Film Indonesia?

Harapannya, film Indonesia secara industri film semakin berkembang dengan kualittas dan tema-tema yang terus semakin berkembang. Beberapa tahun belakang ini, sebelum pandemi, kita melihat film Indonesia mengalami kenaikan jumlah penonton yang cukup signifikan. Ini sebuah tanda baik bahwa film Indonesia sudah sangat dicintai oleh masyarakatnya. Karya-karya sineas film Indonesia bukan saja bicara tentang komersil tapi juga kualitas yang berjalan beriringan. Terbukti dari beberapa film Indonesia secara komersil berhasil, secara kualitas juga berhasil. Walaupun terjadi masa pandemi, saya juga melihat bahwa semangat itu tetap berkobar, termasuk juga dari para penonton tetap menanti karya-karya sineas Indonesia. Tinggal bagaimana nanti setelah masa pandemi, industri film bisa berjalan lagi dengan normal, adanya kekuatan-kekuatan baru, mungkin dari anak-anak muda yang punya konteks-konteks yang lebih kuat secara konten. Ditambah karena pengalaman-pengalaman selama masa pandemi. Biasanya begitu, dari sebuah masalah akhirnya kita justru dapat menelorkan karya-karya yang luar biasa dan meningkatkan banyak hal karena ada pelajaran disitu. Kita berharap tidak hanya bicara distribusi secara lokal tapi bagaimana film-film Indonesia juga bisa didistribusikan secara worldwide. Kita berharap film Indonesia bisa menjadi highlight di luar negeri dengan membawa konten-konten yang sangat kuat dari yang kita punya.

About AKHMAD SEKHU

Akhmad Sekhu, wartawan dan juga sastrawan. Buku puisinya: Penyeberangan ke Masa Depan (1997), Cakrawala Menjelang (2000). Sedangkan, novelnya: Jejak Gelisah (2005), Chemistry (2018), Pocinta (2021)

View all posts by AKHMAD SEKHU →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *