OTT Apps Karya Anak Negeri Jadi Kebanggaan Patut Didukung

Munculnya Over The Top (OTT) Apps Anak Negeri, seperti Stro, Okeflix dan Vidio menjadi kebanggaan kita. Sepatutnya OTT Apps karya anak negeri tersebut didukung agar anak negeri semakin bersemangat dalam mengembangkan karya platformnya.

 

dukung

“Kita sangat mendukung dan turut mendorong OTT Apps karya anak negeri agar tumbuh berkembang, “ kata Tubagus Andre, Kepala Pokja Media Baru dan Arsip Film dan Musik, yang membuka Webinar Indonesia Bangga OTT Apps Anak Negeri, yang digelar Direktorat Perfilman, Musik dan Media Baru, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bekerjasama dengan Demi Film Indonesia, Selasa (2/2/2021).

 

Narasumber dalam webinar kali ini, yakni Ilhamka Nizam selaku VP of Stro, Emha Al Bana (Marcomm of OkeFlix), Tina Arwin (Chief Content Officer, Vidio) dan Garin Nugroho (sineas dan budayawan).

 

Ilhamka Nizam selaku VP of Stro, menyampaikan, bahwa Stro adalah layanan streaming video persembahan Stroworld yang menyajikan film dan series pilihan sampai konten original movie. “Saat ini Stro saat ini menawarkan harga promosi hanya dengan 10 ribu rupiah selama sebulan dengan konten- konten yang menarik. “ katanya.

 

Tina Arwin, selaku Chief Content Officer, Vidio, menyebut bahwa Vidio masih di 29 ribu rupiah per bulan. Vidio menawarkan paket platinum, yang memungkinkan pelanggan bisa menonton olahraga, original series, film, dan lain-lain. Di sisi lain, pada 2021, baru ada dua film Indonesia yang tayang di bioskop. Diprediksi, makin banyak film lokal yang menyeberang ke OTT. Terkait fenomena ini, Tina menyatakan pihaknya suportif dan ingin ada film lokal yang tayang premier di Vidio. “Kami ingin jadi platform yang suportif. Di Emtek kami punya produser, ada Screenplay, Sinemart, dan lain-lain. Setiap pembelian film saya harus menjustifikasi apa film ini cocok dengan penonton Vidio. Persaingan OTT ketat namun kembali lagi ke kualitas filmnya,” katanya.

 

Emha Al Bana, Marcomm of OkeFlix, menyampaikan, bahwa OkeFlix lahir diinisiasi oleh pengusaha muda, yang ingin mendidikasikan dirinya untuk para sineas Tanah Air. “Dia adalah Unchu Viejay SE.MH dan beberapa teman penggiat film yang juga telah berkontribusi bagi perfilman, dan mewakili kaum milenial yang tentunya juga dengan beragam literatur dan kategori film yang diiringi dengan new ekosistem dari perkembangan teknologi serta dunia digital, “ katanya.

sistem berkebun

Adapun, Garin Nugroho menyampaikan, bahwa Pandemi Covid-19 yang meluas di Tanah Air berdampak ke berbagai sektor termasuk film Indonesia. “Kecepatan produksi terhambat sekitar 40 persen karena harus protokoler Covid-19, PSBB sesuai aturan, izin, dan sebagainya,” ungkapnya.

 

Lebih lanjut, Garin menerangkan, ditutupnya bioskop sejak Maret 2020 membuat sejumlah film yang siap tayang banting setir ke platform digital atau OTT. Bahkan sejumlah OTT menayangkan webseries atau serial baru yang dibintangi artis papan atas. “Maraknya webseries karena permintaan pasar meninggi. Di sisi lain, sumber daya manusia yang mengerjakannya belum 100 persen siap, “ bebernya.

 

Garin menyebut kultur bikin seri dalam penulisan skenario, sistem industri, belum memadai untuk mengisi konten OTT lokal Indonesia. “Jika tak segera ditangani, pasar banal yang mirip kasus sinetron di televisi akan berulang, “ ungkapnya mengingatkan.

 

Menurut Garin, karya-karya yang tidak cukup dihargai meski dikonsumsi begitu banyak dan mengalami kejenuhan di pasar yang luar biasa. “Dikhawatirkan, tingginya kebutuhan mengisi konten membuat cara produksi serial kurang profesional karena mengejar waktu dan menekan biaya, “ tegasnya.

 

Garin Nugroho mengandaikan kualitas konten OTT bagai sistem berkebun. “Selain menghasilkan banyak tanaman sehat, tanahnya pun mestinya tidak cepat kering akibat kebanyakan pupuk. Fenomena lain yang menyita perhatian publik, perang harga langganan antar OTT, “ tandasnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *