Review Film Doremi & You, Potret Masa-Masa Indah di Sekolah

//Tiada masa paling indah /Masa-masa di sekolah /Tiada kisah paling indah /Kisah kasih di sekolah// Demikian cuplikan reffrain lagu ‘Kisah Kasih Disekolah’ yang diciptakan dan dipopulerkan Obbie Messakh. Sebuah lagu yang begitu melegenda tentang masa-masa indah di sekolah.

 

Begitu juga dengan film ‘Doremi & You’ yang memotret masa-masa indah di sekolah. Kisahnya tentang empat sahabat: Putri (Naura), Anisa (Nashwa Zahira), Imung (Fatih Unru), dan Markus (Toran Waibro), yang berusaha mengganti uang ekstrakurikuler paduan suara karena tidak sengaja mereka hilangkan, dengan mengikuti kompetisi menyanyi Doremi & You. Sebuah ajang pencarian bakat nyanyi yang menjadi alternatif terbaik untuk dapat mengganti uang kstrakurikuler paduan suara yang hilang hanyut di sungai.

 

Perjuangan keempat sahabat untuk memenangkan kompetisi tersebut tentu tak semudah seperti membalikkan telapak tangan. Perlu kesungguhan, keseriusan dan kekompakkan, juga lika-liku. Bahkan perjuangan mereka menjadi berat saat Reno (Devano), asisten pelatih paduan suara yang diharapkan menjadi pelatih mereka, ternyata menjadi saingan terberat mereka di kompetisi.

 

Tepat sekali TVRI menayangankan film ‘Doremi & You’ pada hari Senin, 22 Juni 2020, pukul 17.00 – 21,00 dalam rangkaian Program Belajar dari Rumah yang tentu masih ada hubungan dengan merebaknya Corona Virus Desaese (Covid-19). Juga bertepatan dengan menyambut masa pendidikan sekolah.

 

Film drama musikal ‘Doremi & You’ tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 20 Juni 2019 dan menjadi salah satu film liburan 2019. Film arahan sutradara B.W Purba Negara yang  skenarionya digarap bareng Jujur Prananto ini seperti ingin mengulang kesuksesan film drama musikal ‘Petualangan Sherina’ (2000). Meski tak sesukses film pendahulunya, kita tentu patut memberi apresiasi karena film produksi Goodwork ini paling tidak mampu mengisi kekosongan film drama musikal Tanah Air.

 

Alur ceritanya cukup mengalir lancar. Awal cerita cukup menjanjikan dengan menghadirkan cerita-cerita tak terduga, meski kemudian tampak klise dan membosankan, tapi setidaknya ada “usaha” untuk memberi suguhan yang beda daripada film-film Indonesia dalam rentang nyaris dua dekade yang terkesan latah, bahkan banyak yang membosankan.

 

Dalam film ini, kita dapat menemukan bintang-bintang cilik baru yang penuh harapan, seperti di antaranya Naura dan Fatih Unru. Kedua bintang cilik tersebut memang kemudian banyak mewarnai film-film bioskop Tanah Air. Bahkan, Fatih tercatat menjadi Pemenang di Festival Film Tempo Kategori: Pemain Anak Pilihan Tempo.

 

Film ini diawali dengan happy dan diakhiri juga dengan happy. Meski demikian film ini tak hanya tontonan, tapi juga bisa menjadi “tuntunan’ yang mengajarkan anak-anak untuk tanggung jawab, kalau menghilangkan harus tanggung jawab untuk mengembalikan. Poin plus film ini, dalam rangka mengembalikan yang hilang itu dengan cara mengikuti  menyanyi Doremi & You.

 

Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari film ini, antara lain, belajar menerima perbedaan  mengenai latar belakang etnis yang beragam dalam sebuah pertemanan. Putri dari Jawa, Imung dari Sulawesi, Markus dari Papua, dan Anisa dari Medan menjadi pesan yang cukup kuat mengenai menyatukan perbedaan suku dalam sebuah pertemanan. Kemudian, mengenal pentingnya usaha dan kerja keras dalam mendapatkan sesuatu, membangun sikap empati pada anak, mengajarkan anak untuk melihat solusi terdapat permasalahan dengan sisi beda tapi tetap sportif, hingga mengajarkan anak-anak untuk setiakawan dalam menghadapi masalah bersama.

 

Dalam film menggambarkan banyak hal indah yang terjadi di masa-masa sekolah, seperti di antaranya membuat jaket organisasi, caper dengan kakak kelas, backstreet karena mau ujian, dan lain-lain. Film ini untuk semua umur. Jika penonton dewasa sudah merasakan sekolah SMP maupun SMA, film ini bisa menjadi oase nostalgia untuk mengenang masa-masa semasa sekolah. Sebuah film yang memang banyak memotret masa-masa indah di sekolah.

 

@kemdikbud.ri @budayasaya, @pusbangfilm #ulasfilmkemdikbud

About AKHMAD SEKHU

Akhmad Sekhu, wartawan dan juga sastrawan. Buku puisinya: Penyeberangan ke Masa Depan (1997), Cakrawala Menjelang (2000). Sedangkan, novelnya: Jejak Gelisah (2005), Chemistry (2018), Pocinta (2021)

View all posts by AKHMAD SEKHU →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *