Sosok Inspiratif Pebisnis Tegal Sukiman Tawad Jalankan ‘Kopi Kinyo’ di Tengah Pandemi

Merebaknya Corona Virus Disaese (Covid 19) berdampak segala sisi kehidupan, termasuk juga sangat berpengaruh dalam dunia kuliner. Meski begitu, para pebisnis kuliner tetap tangguh dan sangat optimis untuk tetap bertahan dalam menjalankan bisnis kulinernya. Salah seorang di antaranya, pebisnis Tegal Sukiman Tawad dalam menjalankan ‘Kopi Kinyo’ di tengah Pandemi yang sosoknya sangat inspiratif tetap semangat, terus bergerak dengan penuh keoptimisan.

 

Dalam menjalankan ‘Kopi Kinyo’, Sukiman menerapkan protokol kesehatan, yatu pengunjung diwajibkan untuk memakai masker, sebelum masuk harus mencuci tangan dengan hand-sanitizer, jaga jarak fisik atau physical distancing dengan penataan kursi yang berjarak untuk menghindari penularan virus Corona.

“Awalnya, saya sering nongkrong untuk ngopi, sebelumnya saya karyawan tapi kepikiran ingin punya usaha sendiri antara rumah makan dan café, dan kemudian saya mengajukan pensiun dini dari pekerjaan di bank,“ kata Sukiman Tawad menunturkan awal mendirikan ‘Kopi Kinyo’ kepada KabareTegal, di ‘Kopi Kinyo’, Jl. Plumpang Semper No.21 Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara, Senin (23/11/2020).

 

Pebisnis kelahiran Tegal, 18 Januari 1973 itu lebih lanjut menerangkan dirinya secara resmi membuka ‘Kopi Kinyo’ pada 1 Maret 2020. “Waktu itu sudah pandemi Corona, tapi baru pada tanggal 22 Maret 2020 ada penerapan Tanggap Darurat Corona yang kemudian dilanjutkan PSBB (Pembatasan Sosial Bersakala Besar) sehingga Kopi Kinyo terpaksa harus saya tutup, “ terang jebolan SMP Negeri 1 Suradadi, Tegal dan  SMA Negeri 1 Kramat, Tegal yang kemudian meraih gelar Sarjana Ekonomi di STIE Ahmad Dahlan Jakarta.

 

Menurut Sukiman, begitu ‘Kopi Kinyo’ baru buka langsung kena Pandemi Corona. “Semua itu di luar prediksi, dimana semua usaha memang terdampak Corona karena harus tutup, dan kita baru buka ‘Kopi Kinyo’ lagi setelah lebaran 2020, “ beber mantan karyawan Permata Bank dan PT. Bank Nusantara Parahyangan Tbk.

Sukiman menyebut ‘Kinyo’ adalah nama panggilan dirinya dari rekan-rekan kantor tempat dulu ia bekerja. Adapun, konsepnya adalah tempat makan untuk keluarga. “Saat siang hari juga bisa untuk menjadi tempat meeting bisnis, “ ungkapnya mantap.

 

Dengan adanya PSBB, lanjut Sukiman, memang sangat terasa dampaknya, costumer yang datang berkurang, tapi ia tetap berusaha untuk bertahan dengan sembilan karyawan yang kesemuanya dari Tegal. “Repotnya, kita harus buka-tutup buka-tutup terus karena dampak Pandemi Corona ini, begitu buka kembali mulai dari awal lagi, “ ujarnya tampak sabar.

 

“Kopi Kinyo’ buka dari jam 10 pagi dan tutup jam 12 malam. Pangsa pasarnya menengah ke bawah. “Alhamdulillah, sudah banyak costumer setia yang tetap selalu datang ke Kopi Kinyo, “ tuturnya penuh rasa syukur.

 

Di ‘Kopi Kinyo’ ada yang istimewa kopi susu dengan gula aren yang khusuus ada Kopi Kinyo. “Mungkin di tempat lain ada, tapi racikannya tentu beda. Kita semua menggunakan kopi lokal Nusantara, mulai dari Kopi Gayo, Kopi Lampung, Kopi Toraja, Kopi Flores, Kopi Mandheling, dan lain-lain,“ paparnya.

 

Dalam mengelola ‘Kopi Kinyo’, Sukiman joint, kerjasama, dengan Supardi, adiknya. “Untuk dapur makanan itu urusan adik saya dengan menu istimewa ayam bakar dan nasi goreng Katsu. Sedangkan, untuk kopi saya yang menanganinya, “ tegasnya percaya diri.

Obsesi Sukiman ke depan, ‘Kopi Kinyo’ nantinya bisa buka dimana-mana. Sebenarnya dari awal ia memag sudah terpikir untuk membuat franchise ‘Kopi Kinyo’ dengan buka beberapa cabang di banyak tempat, tapi karena pandemi jadi dipending, ditunda dulu. “Mudah-mudahan, setelah pandemi selesai, saya bisa buka ‘Kopi Kinyo’ dimana-mana, “ harapannya penuh keoptimisan.

 

Pandangan Sukiman, tempat ngopi akan tetap berkembang, tentu dengan terus mengikuti selera konsumen. “Di ‘Kopi Kinyo’, kita selalu melakukan inovasi baru dengan varian baru. Adapun, untuk pasokan kopinya, kita ada supplier yang kerjasama dengan kita sehingga otomatis konsisten rasa kopinya dan tentu terjaga mutu kopinya, “ pungkas Sukiman Tawad sumringah.

About AKHMAD SEKHU

Akhmad Sekhu, wartawan dan juga sastrawan. Buku puisinya: Penyeberangan ke Masa Depan (1997), Cakrawala Menjelang (2000). Sedangkan, novelnya: Jejak Gelisah (2005), Chemistry (2018), Pocinta (2021)

View all posts by AKHMAD SEKHU →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *