Tarono, M.Pd, Sosok Inspiratif Pendidik dari Program Habibie jadi Guru Eksak

Menjalani sebuah profesi tentu ada tantangannya masing-masing. Begitu juga dengan berprofesi jadi guru, sebagaimana nama yang sandangnya, digugu dan ditiru, yang tentu tantangannya sebagai bagian masyarakat guru harus mempunyai kompetensi sosial yang baik karena akan selalu jadi sorotan masyarakat dan juga jadi contoh bagi anak didiknya.

 

Hal tersebut diakui Tarono, sosok inspiratif pendidik yang terjaring dari program BJ Habibie selaku Menristek yang ingin mempercepat kemajuan teknologi di Indonesia . salah satunya adalah program penyiapan guru-guru Eksak untuk mengajar di SMA.

“Awalnya saya nggak ada cita-cita untuk menjadi guru saya, “ kata Tarono, M.Pd kepada KabareTegal, Senin (13/1/2020).

 

Lelaki kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, 15 Desember 1967, yang kini tinggal di Demangharjo itu menerangkan, lulus dari SMAN 1 Pemalang Jurusan Fisika, ia mengaku punya cita-cita ingin menjadi Insinyur Pertambangan sehingga ketika menjelang kelulusan ia mendaftar melalui jalur PMDK mengambil pertambangan ITB Bandung sesuai dengan keinginannya. “Tapi sayang gagal alias nggak lolos, “ kenangnya.

Menurut Tarono, setelah lulus ia ikut seleksi masuk perguruan tinggi dan mengambil D3 Universitas Indonesia jurusan Fisika. “Ternyata itu adalah Program Pak Habibie selaku Menristek yang ingin mempercepat kemajuan teknologi di Indonesia . Salah satunya adalah program penyiapan guru-guru Eksak untuk mengajar di SMA . Dari situlah saya baru tahu kalau saya setelah lulus akan jadi guru SMA, maklum anak desa dan dari kelurga yang tak berpendidikan, “ ujarnya seraya tersenyum.

 

Tarono kembali menegaskan bahwa dari kecil dirinya memang tak punya cita-cita jadi guru, malah waktu kecil sampai SMP ia ingin masuk AKABRI tapi ia sadar giginya banyak berlubang. “Kata orang, kalau giginya berlubang nggak bisa masuk AKABRI sehingga saat SMA saya berubah ingin menjadi Insinyur Pertambangan tapi Tuhan berkehendak lain, memang saya sudah ditakdirkan untuk menjadi guru, “ ungkapnya memantapkan diri.

Saat ditanya, apa tantangan menjalani profesi sebagai guru? Dengan tenang, Tarono memberikan jawaban, “Sesuai dengan namanya, ‘Guru’ itu digugu dan ditiru, tentu tantangannya sebagai bagian masyarakat guru harus mempunyai kompetensi sosial yang baik karena akan selalu menjadi sorotan masyarakat dan juga akan menjadi contoh bagi anak didiknya.”

 

Setelah itu, Tarono menuturkan pengalamannya yang paling berkesan selama menjadi guru yaitu pengalaman saat akan pulang setelah menerima SK Mutasi dari SMAN 2 Sijunjung Propinsi Sumatera Barat ke Kota Tegal Propinsi Jawa Tengah . “Dalam kehidupan bermasyarakat mungkin saya termasuk orang yang nggak kuper-kuper amat, hal ini ditunjukan dengan banyaknya teman-teman mulai dari kelas masyarakat biasa, pegawai sampai pejabat teras di lingkungan kabupaten Sawah Lunto Sijunjung yang sering bahkan hampir tiap hari berkunjung kerumah tinggal saya, “ paparnya panjang lebar.

 

Dari kondisi itulah, lanjut Tarono, maka saat malam sebelum dirinya pulang alias pamitan dilakukan acara perpisahan. Pada acara perpisahan itu hampir sebagian besar dari pejabat, pegawai dan masyarakat hadir. “Untuk acara tersebut sampai-sampai saya harus menyembelih kambing dua ekor untuk makan-makan, sungguh ramai sekali, mobil pejabat banyak sekali dan juga mereka banyak yang ngasih kenang-kenang atau cindramata itulah pengalaman yang sangat berkesan bagi saya selama menjadi guru, “ kenangnya bernostalgia.

Adapun, suka dukanya selama menjadi guru, menurut Tarono, sukanya banyak pengalaman, banyak teman dan banyak daerah-daerah yang sudah ia kunjungi yang mungkin tidak akan didapat jika dirinya  tidak jadi guru. Ia menyebut di Jakarta dirinya pernah mengajar di SMAN 1 Budi Utomo Jakpus, SMA 78 Jakbar dan juga di SMAN 39 Cijantung, Jaktim. “Dukanya ya banyak tapi saya punya prinsip nggak boleh mengeluh jadi saya anggap nggak ada, “ ungkapnya bijak.

 

Harapan Tarono ke depan dalam dunia pendidikan, harus lebih maju. “Kita harus melompat, jangan lari, karena kita tetap akan tertinggal dan jangan gonta-ganti kurikulum akibat pergantian menteri maupun pemerintahan dan untuk para politikus jangan menjadikan pendidikan sebagai bahan kampanye kalau hanya membuat rakyat kecewa, “ ucap Tarono penuh harap.

 

Tarono berpendapat, masyarakat desa Jatibogor termasuk masyarakat yang dinamis, peka terhadap perkembangan globalisasi, tidak kalah dengan masyarakat desa lain. “Ini terbukti kemunculan hasil-hasil teknologi selalu masyarakat Jatibogor lebih dulu tahu dari pada desa lain. Dari sisi pendidikan juga tidak kalah dengan desa lain. Hal ini bisa dilihat dari banyak anak-anak Jatibogor yang mengenyam perguruan tinggi alias kuliah bahkan sudah banyak yang berkiprah dalam pemerintahan baik di kab Tegal maupun di luar daerah, “ terang Tarono.

Tarono mengaku perubahan dan perkembangan desa Jatibogor secara rincinya ia tidak bisa menceritakan karena dirinya sudah menjadi warga desa lain. “Tetapi secara umum perubahan dan perkembangan desa Jatibogor dalam 10 tahun terakhir saya lihat cukup pesat, ini bisa dilihat dari rumah-rumah warga Jatibogor yang sudah bagus-bagis, “ tegas Tarono.

 

Harapan Tarono untuk desa Jatibogor dalam 10 tahun ke depan, harus lebih maju, bersih dan tertata lagi dengan baik. “Aparatur desanya harus bisa mengayomi masyarakat dan bisa menjadi contoh desa lain. Masyarakatnya melek teknologi. Mudah-mudahan ke depan banyak anak-anak Jatibogor yang bisa membanggakan desanya, misalnya bisa berkiprah baik pada level kecamatan, kabupaten, propinsi, nasional maupun internasional, “ pungkas Tarono sumringah.

 

Saat ini, Tarono menjadi guru fisika di SMA Negeri 1 Tegal. Sebuah sekolah paling favorit di Tegal. Program Fisika memang selalu menjadi idamannya, mulai dari D3 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) Jurusan Fisika (1991), S1 Fakultas Pendidikan Fisika, hingga S2 juga Fisika. Oleh karena itu, ia pantas kiranya didaulat menjadi Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pelajaran Fisika Kota Tegal (2002-2008), Wakil ketua Forum Guru Fisika Jawa Tengah (2009-2011), Pengurus MGMP Propinsi Jawa Tengah (2005) dan 2015-2017 menjadi Wakil Kepala Sekolah

 

About AKHMAD SEKHU

Akhmad Sekhu, wartawan dan juga sastrawan. Buku puisinya: Penyeberangan ke Masa Depan (1997), Cakrawala Menjelang (2000). Sedangkan, novelnya: Jejak Gelisah (2005), Chemistry (2018), Pocinta (2021)

View all posts by AKHMAD SEKHU →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :