Brand Warteg Raji Milik Vieto Ardian Dilirik Banyak Investor Minta Dibuatkan Franchise

Eksistensi Warteg akhir-akhir ini semakin banyak bertumbuhan dengan tampilan barunya yang lebih kinclong. Pertumbuhan yang tentu sangat menggembirakan itu disertai dengan penerapan sistem franchise, waralaba, yang kemudian merambah ke brand-brand warteg lainnya. Seperti di antaranya, brand Warteg Raji milik Vieto Ardian yang sekarang dilirik banyak investor minta dibuatkan franchise.

 

“Saya mendirikan Warteg Raji pada empat tahun lalu dan sampai sekarang sudah empat Warteg Raji yang dikelola hanya saudara-saudara saya saja, “ kata Vieto Ardian kepada KabareTegal, di Warteg Raji, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (24/11/2020).

Lelaki kelahiran Tegal, 4 April 1979 itu lebih lanjut menerangkan, dirinya memakai nama Raji untuk warteg yang dikelolanya, sebenarnya hanya sebuah nama saja. “Tapi begitu buka-buka kamus, ternyata artinya harapan. Terus, bagi saya pribadi sebagai seorang pria, Raji itu Rajanya Rejeki, sedangkan untuk perempuan, Raji itu Ratunya Rejeki, jadi bisa masuk semuanya,” terangnya bangga.

 

Menurut Vieto, Warteg Raji yang sekarang dilirik banyak investor minta dibuatkan franchise. “Tapi konsep franchise-nya beda dengan brand warteg-warteg lainnya, tidak dijual putus, tapi selalu dalam pantauan, dan menunya dibebaskan pada pengelolnya,“ ungkapnya mantap

 

Vieto mengaku begitu membuat status di medsos facebook-nya langsung banyak investor yang berdatangan. “Mereka ingin dibuatkan franchise-nya, “ ujarnya.

 

Sebenarnya, lanjut Vieto, ia tergugah untuk mau menerima investor dibuatkan franchise karena kalau memang sudah ada yang sesuai target, ada satu warteg yang hasilnya untuk menyantuni yatim-piatu. “Karena tujuannya sangat mulia jadi saya mau, “ beber anggota Keluarga Besar Sisi Lain Kab Tegal (SLKT) dan Keluarga Besar Gerak Sedekah Tegal (GST) Jakarta Selatan.

Vieto mengakui ingin juga franchise sampai ratusan, tapi ia sangat menjaga brand Warteg Raji yang selama ini baru dikelola saudara-saudaranya saja. “Saya sangat hati-hati untuk membuat franchise Warteg Raji ini, “ ucapnya penuh percaya diri.

 

Suka-duka mengelola warteg bagi Vieto tentu saja ada. Seperti di antaranya, saat kebanyakan orang masih tidur lelap, tapi ia harus bangun untuk belanja ke pasar, setelah sholat subuh. “Sukanya, kalau pemasukan sesuai target, sehingga bisa untuk membayar kontrakan, dan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan lainnya, “ ucapnya penuh suka-cita.

 

Vieto mengakui pandemi corona sangat mempengaruhi pendapatan warteg-nya. “Karena dampak corona membuat banyak perusahaan yang merumahkan para karyawannya, yang kemudian para karyawan itu kebanyakan jadi pelanggan makan di wartegnya banyak yang pulang kampong meski harus kucing-kucingan, sehingga yang makan di warteg otomatis jadi berkurang,“ kenangnya.

 

Dampak corona memang sangat dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Keadaan tersebut tentu membuat Vieto kasihan dan menolong beberapa karyawan yang dirumahkan untuk ikut bekerja di wartegnya. “Mereka sampai tidak pulang kampung karena ketatnya peraturan larangan tidak boleh pulang kampung untuk mencegah penularan virus corona, dan mereka selama empat bulan bekerja di warteg, menunggu sampai dapat panggilan kerja lagi, “ paparnya.

 

“Alhamdulillah, saya bisa bantu orang untuk kerja di warteg ini, “ tuturnya penuh rasa syukur.

Harapan Vieto, Warteg Raji maju dan berkembang. Ia punya prinsip dalam hidupnya, yaitu jiwa pengusaha jangan takut bersaing. “Istilah dunia persilatan, pendekar tanpa lawan, “ tegasnya.

 

Vieto menyampaikan, Warteg Raji buka 24 jam. “Alhamdulillah tetap banyak orang yang jadi pelanggan makan di warteg, bukan hanya masyarakat dalam negeri, bahkan juga orang dari luar negeri, seperti orang Jepang jadi langganannya. Yang makan bukan hanya siang saja, tapi banyak juga yang makan malam-malam, seperti para pekerja Gultik (Gulai Tikungan) yang pulang kerja sekitar jam dua atau jam empat, makan di warteg ini, “ pungkas Vieto Ardian sumringah.

 

About AKHMAD SEKHU

Akhmad Sekhu, wartawan dan juga sastrawan. Buku puisinya: Penyeberangan ke Masa Depan (1997), Cakrawala Menjelang (2000). Sedangkan, novelnya: Jejak Gelisah (2005), Chemistry (2018), Pocinta (2021)

View all posts by AKHMAD SEKHU →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :